Langsung ke konten utama

Membaca Buku Daulat Kebudayaan: Saatnya Melihat Kembali Laku Kebudayaan Kita

 Arisan Materi Vol.2



Judul Buku : Daulat Kebudayaan : Jawa dan Islam dalam Sebuah Pertemuan
Penulis : Irfan Afifi
Jumlah Halaman : 168 hlm
Tanggal Terbit : Cetakan kedua, Maret 2023
Penerbit : Tanda Baca
Peresensi : Filyadi Gusti Zamzami

Resensi

Ketika melihat sosok Mas Irfan Afifi yang rutin mengisi konten YouTube Mojokdotco terkait sejarah peradaban Islam di Indonesia lebih luasnya Nusantara. Saya sungguh tertarik dengan narasi-narasi yang disampaikan beliau, sungguh memukau hati dan nalar berpikir saya. Akhirnya saya menelusuri siapa beliau, dan ternyata beliau adalah seorang Imam di Langgar.co. Dan Beliau tentu saja seorang penulis muda yang produktif sekali. Karya-karyanya bukan hanya sebatas romantisme masa lampau yang dinarasikan kembali. Tetapi lebih kepada membuka tabir yang selama ini seringkali tertutup oleh tirai kemegahan duniawi.

Membaca buku ini menambah semangat saya mendalami pengetahuan terkait keislaman yang sesungguhnya. Islam dan kebudayaan sungguh tidak harus diadu sebagaimana cara pandang masyarakat ‘modern’ yang mengatakan “merekalah pembawa peradaban maju”. Pada pengantar buku ini, Mas Irfan menuliskan,

Barangkali tidak di masa manapun selain pada masa ini, istilah ‘kebudayaan’ benar-benar berhadapan dan dihadapkan secara vis-avis dengan ‘agama’. Pun juga, hanya di masa ini pula, saya kira, nafar keberagamaan kita hari ini secara kikir menautkan diri pada visi kemanusiaan secara lebih mendasar, yang tampilan dan wajahnya bersitegang dan berselisih dengan nilai-nilai kemanusiaan universal.

Tentu pembaca telah mendapat sedikit gambaran terkait isi dari buku ini. Ya. Benarkah kebudayaan kita di masa ini telah berdaulat? Jika teman-teman merasa kebudayaan kita di masa ini telah berdaulat, maka tidak perlu membeli dan membaca buku ini. Namun, jika merasa belum berdaulat maka bacalah, bacalah, siapa tahu ada kalimat-kalimat yang menampar cara pandangmu yang selama ini telah di hegemoni oleh cara pandang seorang penjajah!

Buku ini berisikan Sembilan essai terkait kebudayaan di Indonesia terkhusus dalam bingkai pertemuan antara Islam dan Jawa. Dalam buku ini menegaskan bahwa kebudayaan ialah kata kerja. Lantas, berbicara kebudayaan bukan hanya berbicara produk-produknya belaka. Lebih dari itu, berbicara kebudayaan ialah berbicara bagaimana laku kita bisa mengolah empat fakultas yang ada di dalam diri ini. (1) Karsa (raga), (2) Cipta (akal-pikiran), (3) Jiwa, dan (4) Rasa. Kerja budaya barangkali seharusnya mendayakan budi oleh karenya berarti mendayakan Karsa, Cipta, Jiwa, dan Rasa, alias mendayakan seluruh potensi dan fakultas kemanusiaan kita.

Mengenali potensi “fitrah” manusia, saya lebih lanjut membaca buku seorang Filsuf Islam bernama Murtdha Mutthahhari. Kata “Fitrah” sendiri ditemukan hanya terdapat di dalam kitab suci Al-Qur’an. Oleh karenanya, “fitrah” adalah potensi yang dimiliki oleh semua manusia. Suatu potensi atau kecendrungan yang sudah ada sejak kita dilahirkan. Potensi manusia sejak dulunya hanya menyukai hal-hal yang baik, keindahan, akhlak / moral, dan rasa ingin tahu yang kuat. Hanya saja, fitrah ini seringkali tidak dipergunakan oleh pemiliknya: kita.

Kerja kebudayaan, suatu kerja keras yang panjang. Suatu visi misi kemanusiaan yang tidak bisa dikerjakan dalam hitungan bulan, terlebih diproyeksikan. Kerja kebudayaan adalah suatu penantian kita untuk menyambut suatu masa yang ada hanya keadilan, keindahan, dan dipenuhi manusia-manusia yang baik. Tentu inilah fungsi kita. Sebagai manusia, wakil Tuhan di dunia yang membawa keseimbangan alam semesta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kita Sibuk Menjadi Hakim

 Arisan Materi Vol.2 Judul Buku : Mereka Sibuk Menghitung Langkah Ayam Penulis : Rusdi Mathari Jumlah Halaman : 214 hlm Tanggal Terbit : 2018 Penerbit : Buku Mojok Peresensi : Dicky Setiawan Sembilan belas naskah yang berada di tangan Anda adalah sehimpun reportase Rusdi Mathari. Naskah ini disajikan secara mendalam, menarik, dan juga menggelitik. Pembaca akan dibawa oleh Rusdi Mathari untuk menjelajahi reportase dari beragam kisah. Mengetahui kisah orang-orang yang berjuang melawan penyakit AIDS, orang-orang tua yang menghabiskan hidup di panti, dan sekelumit kehidupan pasar. Menelisik kehidupan masyarakat Aceh pasca-tsunami dan pembalakan hutan di Kalimantan. Membaca catatan beragam peristiwa hukum dan kriminal, hingga ketidakadilan yang dialami sebagian kelompok di Jawa Timur. Resensi Ini merupakan review kedua saya pada buku karya Rusdi Mathari, Merasa Pintar Bodoh Saja Tak P unya adalah buku pertama yang saya review sebelumnya. Selanjutnya saya membaca buku karya  beliau ...

Jangan Nganggur!

Arisan Materi Vol.2 Judul Buku : Yang Menyublim di Sela Hujan Penulis : Fawaz Jumlah Halaman : 314 hlm Tanggal Terbit : 2018 Penerbit : EA Books Peresensi : Much Rinaldi Naskah ini berisi tentang cerita yang disarikan dari catatan-catatan penulis selama menjalankan tugas di Kampung Mumugu Batas Batu, Kabupaten Asmat, Papua sebagai sukarelawan guru. Penugasan ini diberikan kepada penulis dalam rangka mengawal program literasi terapan di Sokola Asmat. Dalam naskah ini menceritakan tentang pengalaman belajar mengajar bersama anak-anak murid Sokola Asmat di Mumugu Batas Batu, interaksi dengan murid-murid dan warga, permasalahan-permasalahan yang dialami selama penulis tinggal di lokasi penugasan, dan keseharian yang dijalani di Mumugu Batas Batu. Dan jangan lupa cerita-cerita lucu, kocak dan konyol yang penulis alami selama berinteraksi dengan anak-anak dan warga Mumugu Batas Batu. Resensi ------------ Klik --->  pengantar bahasan Terima kasih.

Teman, Masa Lalu, dan Hal-Hal yang Belum Selesai

 Arisan Materi Vol. 2 Judul Buku : Tsukuru Tazaki Tanpa Warna dan Tahun Ziarahnya Penulis : Haruki Murakami Jumlah Halaman : 345 hlm Tanggal Terbit : Cetakan Pertama, Januari 2018 Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) Penerjemah : Ribeka Ota  Perensensi : Syalma  Tsukuru Tazaki punya empat sahabat karib di SMA. Kebetulan, semua nama mereka menyiratkan warna. Dua laki-laki yang masing-masing dipanggil Akamatsu yang berarti ‘pinus merah’ dan Oumi yang berarti ‘laut biru’. Sementara nama para gadis berturut-turut Shirane, ‘akar putih’, dan Kurono, ‘ladang hitam’. Dan Tazaki satu-satunya nama belakang yang tidak memuat warna. Suatu hari teman-teman Tsukuru mengabarkan bahwa mereka tidak mau bertemu lagi dengannya ataupun berbicara dengannya, selama-lamanya. Sejak hari itu dia terapung-apung antara hidup dan mati, tidak mampu berteman dengan seorang pun. Tetapi, dia lalu bertemu Sara, yang menyadarkan bahwa kini sudah waktunya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya ter...