Arisan Materi Vol.2
Judul Buku : Mereka Sibuk Menghitung Langkah Ayam
Penulis : Rusdi Mathari
Jumlah Halaman : 214 hlm
Tanggal Terbit : 2018
Penerbit : Buku Mojok
Peresensi : Dicky Setiawan
Sembilan belas naskah yang berada di tangan Anda adalah sehimpun reportase Rusdi Mathari. Naskah ini disajikan secara mendalam, menarik, dan juga menggelitik. Pembaca akan dibawa oleh Rusdi Mathari untuk menjelajahi reportase dari beragam kisah.
Mengetahui kisah orang-orang yang berjuang melawan penyakit AIDS, orang-orang tua yang menghabiskan hidup di panti, dan sekelumit kehidupan pasar. Menelisik kehidupan masyarakat Aceh pasca-tsunami dan pembalakan hutan di Kalimantan. Membaca catatan beragam peristiwa hukum dan kriminal, hingga ketidakadilan yang dialami sebagian kelompok di Jawa Timur.
Resensi
Ini merupakan review kedua saya pada buku karya Rusdi Mathari, Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya adalah buku pertama yang saya review sebelumnya. Selanjutnya saya membaca buku karya beliau lainnya. Satu di antaranya adalah buku berjudul Mereka Sibuk Menghitung Langkah Ayam, buku yang terbit pertama kali pada tahun 2018 yang lalu.
Rusdi Mathari atau yang juga dikenal dengan nama Cak Rusdi adalah seorang Jurnalis yang merintis karir sejak 1990-an. Selain aktif sebagai seorang Jurnalis, Cak Rusdi juga aktif menulis di beberapa media. Termasuk menulis catatan dan pengalamannya yang dimuat blog pribadinya.
Mereka Sibuk Menghitung Langkah Ayam adalah sehimpun reportase yang dialami dan dicatat sendiri oleh Cak Rusdi yang berisi sembilan belas naskah dan ditulis dalam rentang tahun 2007 hingga 2014. Dalam buku ini, Cak Rusdi menyajikan secara mendalam, menarik, dan juga menggelitik.
Pada Buku Mereka Sibuk Menghitung Langkah memiliki daftar isi yang terdiri dari dua Bab. Pada bab satu terdapat sepuluh cerita dan bab dua terdapat sembilan cerita yang disajikan.
Cerita pertama cak Rusdi menyajikan kisah orang-orang yang berjuang melawan penyakit AIDS yang kemudian dikucilkan di masyarakat. Ada banyak kisah-kisah yang di angkat Cak Rusdi mulai dari dalam negeri hingga luar negeri.
Dan cerita terakhir sekaligus di ambil sebagai judul buku, Mereka Sibuk Menghitung Langkah Ayam yang membahas secara mendalam tentang konflik antar kelompok-kelompok agama di Sampang
Madura. Konflik ini sendiri adalah konflik antar kelompok Syiah-Sunni.
Diceritakan juga dari mana akar konflik bermula hingga bagaimana konflik tersebut berkembang karena persoalan keluarga yang dibawa pada perbedaan pandangan tentang agama, hingga makin memanas karena terlalu di goreng-goreng dan adanya isu kepentingan politik.
Konflik ini berujung pada pembakaran rumah dan pengusiran warga penganut Syiah.
Dari kedua cerita ini berkaitan dengan hak asasi manusia. Di Indonesia sendiri masyarakat di atur dalam Undang-Undang Dasar 1945 Bab Hak Asasi Manusia pasal 28. Namun masalahnya perlindungan HAM masih sering di langgar oleh masyarakat. Padahal sudah ada Undang-Undang
yang mengaturnya.
Pada cerita pertama menceritakan bagaimana orang dengan HIV/AIDS (ODHIV) selalu bersinggungan dengan stigma dan diskriminasi. Masyarakat menganggap bahwa orang dengan HIV itu adalah orang dengan perilaku buruk.
Diceritakan dalam buku ini terdapat keluarga yang mengidap HIV, Imanuel atau bisa sering di panggil Nuel dan Yanti (ibu Nuel).
Bagaimana orang dengan HIV/AIDS (ODHIV) ini harus di usir dari kontrakan setelah masyarakat tahu tetangganya mengidap HIV. Tidak sampai disitu Yanti yang sempat bekerja pada sebuah perusahaan harus rela kehilangan sumber penghasilan, karena dikeluarkan pada tempat bekerjanya.
Perlu diketahui bahwa yang mengidap penyakit HIV/AIDS tidak hanya orang dewasa namun juga anak-anak. Sungguh sangat memprihatinkan karena anak-anak tersebut tidak berdosa namun harus
dilahirkan dengan status mengidap HIV/AIDS.
Selain Yanti, Nuel anaknya yang mengidap HIV/AIDS juga tidak lepas dari perlakuan diskriminatif. Nuel sempat terserang penyakit diare dan diajak untuk diperiksa kerumah sakit. Namun dari sekian
banyak dokter di poli anak, tak seorang dokter yang bersedia untuk memberikan obat diare.
Rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai HIV/AIDS dapat menyebabkan masyarakat tersebut menjauhi Orang Dengan HIV/AIDS (ODHIV).
Masyarakat yang rendah pengetahuannya selalu beranggapan bahwa penderita HIV/AIDS adalah seseorang yang berperilaku buruk, cenderung melakukan seks bebas. Persepsi buruk masyarakat terhadap pengidap HIV/AIDS tidaklah semuanya benar, Padahal pengidap bisa terinfeksi tanpa sengaja, misal dikarenakan transfusi darah atau jarum suntik.
Jadi tidak seluruh pengidap HIV/AIDS memiliki perilaku yang buruk dan cenderung melakukan seks, karena tidak sedikit orang yang menjadi korban HIV/AIDS karena ketidaksengajaan.
Banyak yang mengira virus HIV/AIDS itu menular kalau kita berbicara dengan penderita, makan dan minum dengan satu gelas dan piring yang sama, berenang sama, memakai handuk atau barang yang
sama. Itulah sebabnya banyak masyarakat menjauhi ODHA. Ketika mereka mendengar kata HIV/AIDS, seakan-akan seperti sesuatu yang sangat menakutkan dan harus dijauhi penderitanya. Padahal sesungguhnya penyebaran virus HIV/AIDS tidaklah demikian.
Virus HIV/AIDS dapat menular melalui transfusi darah, berhubungan intim, bayi yang meminum ASI dari seorang ibu yang mengidap HIV. Jadi penularan HIV/AIDS tidak melalui udara, tidaklah benar apabila berdekatan atau berbicara dengan Orang Dengan HIV/AIDS (ODHIV) dapat tertular HIV/AIDS.
Maka dengan demikian tidak dibenarkan Pengucilan terhadap para penderita HIV/AIDS, karena bagaimanapun mereka juga merupakan manusia yang mempunyai hak dan kewajiban yang sama.

Komentar
Posting Komentar