Arisan Materi Vol.2
Dae-hyeon, akhir-akhir ini Ji-yeong sedang sedih. Secara fisik dia memang sudah membaik, tetapi pikirannya resah. Sering-seringlah kau menghibur dan berterima kasih kepadanya
Judul Buku : Kim Ji-Yeong, Lahir Tahun 1982
Penulis : Cho Nam-Joo
Jumlah Halaman : 192 hlm
Tanggal Terbit : Cetakan kedua belas, Juni 2022
Penerbit : PT. Gramedia, Jakarta
Peresensi : Shelvia
Kim Ji-yeong adalah anak perempuan yang terlahir dalam keluarga yang mengharapkan anak laki-laki, yang menjadi bulan-bulanan para guru pria di sekolah, dan yang disalahkan ayahnya ketika ia diganggu anak laki-laki dalam perjalanan pulang dari sekolah di malam hari.
Kim Ji-yeong adalah mahasiswi yang tidak pernah direkomendasikan dosen untuk pekerjaan magang di perusahaan ternama, karyawan teladan yang tidak pernah mendapat promosi, dan istri yang melepaskan karier serta kebebasannya demi mengasuh anak.
Kim Ji-yeong mulai bertingkah aneh.
Kim Ji-yeong mulai mengalami depresi.
Kim Ji-yeong adalah sosok manusia yang memiliki jati dirinya sendiri.
Namun, Kim Ji-yeong adalah bagian dari semua perempuan di dunia.
Kim Ji-yeong, Lahir Tahun 1982 adalah novel sensasional dari Korea Selatan yang ramai dibicarakan di seluruh dunia. Kisah kehidupan seorang wanita muda yang terlahir di akhir abad ke-20 ini membangkitkan pertanyaan-pertanyaan tentang praktik misoginis dan penindasan institusional yang relevan bagi kita semua.
Resensi
Gambaran Umum
Kim Ji-Yeong, Lahir 1982 membahas masalah universal yang dirasakan setiap perempuan secara padat. Buku ini menceritakan Kehidupan Seorang Kim Ji-Yeong di berbagai segmen kehidupannya, mulai dari ketika Kim Ji-Yeong masih menjadi seorang anak, seorang pelajar dan mahasiswa, pekerja kantoran hingga seorang istri, ibu dan menantu. Setiap tahap kehidupan Kim Ji-Yeong tak lepas dari isu ketidaksetaraan gender. Semuanya terangkum secara rapi dengan plot yang mengalir.
Ketika membaca setiap babnya, rasanya pembaca diingatkan kembali bagaimana hal-hal yang dianggap sepele dan lumrah ternyata memberikan dampak besar bagi seseorang, terutama para kaum perempuan. Perempuan banyak dihadapkan pada kenyataan bahwa mereka harus menerima dan bungkam dengan apa yang dilabelkan masyarakat pada dirinya, ketika mereka membuka suara maka mereka dianggap seorang yang tidak patuh dan kurang ajar. Hingga pada akhirnya inilah yang membuat perempuan lebih memilih bungkam.
Diskriminasi yang dialami Kim Ji-Yeong disebabkan oleh budaya patriarki yang telah mengakar di Korea Selatan. Bentuk-bentuk diskriminasi yang dialami oleh tokoh utama, Kim Ji-Yeong tersebut merepresentasikan kehidupan perempuan di Korea Selatan bahkan perempuan di seluruh dunia secara universal.
Alur dalam novel Kim Ji-yeong Lahir Tahun 1982 ini merupakan alur campuran atau maju-mundur, pada bagian awal novel menceritakan tahun pertama kali keanehan Kim Ji-yeong diketahui yaitu pada musim gugur pada tahun 2015, kemudian alurnya mundur atau kembali pada tahun 1982 atau tahun di mana Ji-yeong dilahirkan dan tahun 1994-2012 atau masa-masa sekolah, kuliah dan kerja Ji-yeong. Alur maju untuk berhenti sampai akhir yaitu tahun 2016 masa di mana Ji-yeong menjalani konseling dengan psikiater.
Segmentasi Kehidupan Kim Ji-Yeong
Dalam buku "Kim Ji-Yeong, Born 1982" oleh Cho Nam-joo, kisah hidup Kim Ji-Yeoung dipaparkan melalui beberapa tahapan atau "stage" dalam kehidupannya. Ini mencerminkan perubahan-perubahan peran dan identitasnya sepanjang hidupnya. Berikut adalah beberapa tahapan utama yang digambarkan dalam buku ini:
Bab Musim Gugur 2015 : Masa Awal terdeteksi tanda-tanda depresi pada Kim Ji-Yeong
Dalam bab "Musim Gugur 2015" dari buku "Kim Jiyoung, Born 1982," beberapa tanda depresi yang dialami oleh Kim Jiyoung dapat menjadi lebih nyata. Ini adalah salah satu periode di mana Kim Jiyoung semakin mengalami perburukan kesehatan mentalnya. Beberapa tanda depresi yang mungkin terlihat.
“Memasak untuk keluarga sendiri sama sekali tidak merepotkan. Bukankah rasanya menyenangkan kalau semua orang berkumpul, memasak, dan makan bersama?”
“Ayah, dengan segala hormat, izinkan aku mengatakan sesuatu. Apakah yang dinamakan keluarga hanya terbatas pada keluarga ini? Pihak kami juga termasuk keluarga. Kami juga hanya bisa bertemu dengan ketiga anak kami di hari raya. Seperti itulah kehidupan anak- anak muda zaman sekarang. Jika anak perempuan kalian pulang ke rumah, seharusnya kalian mengizinkan anak perempuan kami pulang juga.” Novel Kim Ji-yeong Lahir Tahun 1982 halaman 17.
Bagian awal novel menuangkan narasi singkat dengan alur mundur ketika keanehan mulai muncul dalam diri Kim Ji-yeong di usianya yang menginjak 34 tahun. Cho Nam-joo menggambarkan bagaimana kekacauan, keresahan, dan kekhawatiran yang dirasakan oleh Ji-yeong. Selain itu, Nam-joo juga membawa pembaca pada realita bahwa selama ini perempuan selalu menjadi objek utama dalam ruang domestik.
Bab 1982 - 1994 : Kehidupan Kim Jiyeong Sebagai Seorang Anak Perempuan
"Kak, memangnya Kakak tidak suka susu bubuk?"
"Suka."
begitu, kenapa Kakak tidak makan?" "Karena rasanya memalukan."
"Ha?"
"Karena rasanya memalukan, jadi aku tidak akan memakannya lagi."
Kim Ji-yeong tidak mengerti apa maksud kakaknya itu, tetapi ia bisa memahami perasaan kakaknya. Alasan nenek mereka marah bukan karena Kim Ji-yeong sudah melawan usia untuk minum susu itu atau karena takut jatah susu adik- nya berkurang. Sulit sekali menggambarkan nada suara, sorot mata, gerakan kepala, posisi bahu, dan tarikan napas nenek mereka menjadi satu kalimat, tetapi gambaran yang paling mendekati adalah nenek mereka seolah-olah menyatakan "berani-beraninya kau mengambil barang milik cucu laki-laki kesayanganku?"
Karena ada kesan bahwa adik laki-lakinya dan semua milik adik laki-lakinya sangat berkarya sehingga dak boleh disentuh siapa pun. Kim Ji-yeong merasa seolah-olah hanyalah "orang asing". Kakaknya pasti juga merasakan hal yang sama. Novel Kim Ji-yeong Lahir Tahun 1982 halaman 22.
Dalam narasi di atas, ketidakadilan gender terlihat jelas karena anak laki-laki dianggap memiliki nilai lebih tinggi daripada anak perempuan. Ini mencerminkan pandangan tradisional yang masih berlaku di beberapa keluarga di mana laki-laki dianggap sebagai penerus yang harus diprioritaskan dalam hal harta dan peluang pendidikan. Hal ini bisa mengakibatkan perasaan tidak dihargai bagi anak perempuan.
Bab 1995-2000 : Kehidupan Kim Ji-Yeong Sebagai Siswi Sekolah
“Kita semua tahu anak laki-laki tidak akan duduk diam selama sepuluh menit. Mereka pasti akan bermain sepak bola, bola basket, bisbol, atau melompat ke sana kemari. Bagaimana mungkin anak-anak seperti itu disuruh mengenakan kaus berkerah tinggi dan sepatu biasa?”
“Anda pikir anak-anak perempuan tidak suka bergerak? Harus mengenakan rok, stoking, dan sepatu biasa membuat kami merasa tidak nyaman untuk bergerak. Ketika masih duduk di bangku SD, aku juga suka melompat ke sana kemari, berkeliaran ke sana kemari, dan
bermain lompat tali setiap jam setiap jam istirahat.” Novel Kim Ji-yeong Lahir
Tahun 1982 halaman 53.
Pada periode sekolah, Kim Ji-Yeong tak luput mendapatkan diskriminasi, seperti narasi di atas diceritakan bahwa sekolah memberlakukan aturan di mana siswa laki-laki diberi pakaian olah raga yang lebih nyaman sementara perempuan diharuskan mengenakan rok dan stoking, padahal prakteknya siswa laki-laki dan perempuan sama aktifnya dengan mereka sehingga butuh pakaian yang sama nyamannya dengan siswa laki-laki.
Bab 2001-2011 : Kehidupan Kim Ji-Yeong sebagai Seorang Mahasiswi & Karyawan
Ketika Masih menjadi mahasiswa Kim Ji-Yeong masuk ke dalam sebuah klub, di klub tersebut tidak anggota perempuan tidak pernah diberikan kesempatan mengerjakan tugas berat karena dianggap tidak memiliki kapasitas, kemudian setelah kkub mendapatkan penghargaan karena sebuah proyek maka anggota laki-laki akan menyombong semua itu berkat kerja keras mereka.
Konstruksi sosial ini yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat yang didominasi oleh budaya patriarki memengaruhi pandangan tentang peran perempuan. Pandangan ini menciptakan persepsi bahwa perempuan tidak memiliki cukup kekuatan atau kemampuan untuk menangani pekerjaan yang berat atau berlebihan, sehingga mereka diharapkan menerima bantuan dari pihak laki-laki dalam setiap aktivitas mereka.
Pandangan seperti ini mencerminkan stereotip gender yang merugikan perempuan dan mengabaikan potensi mereka. Ini juga menguatkan ketidaksetaraan gender, di mana perempuan sering dianggap sebagai "lemah" atau "terbatas" dalam kapasitas mereka untuk berkontribusi dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam pekerjaan dan aktivitas sehari-hari.
Kisah Kim Ji-yeong juga mencerminkan ketidaksetaraan gender yang sering terjadi di dunia kerja. Meskipun dia memiliki bakat dan dedikasi yang luar biasa, Ji-yeong masih menghadapi kesulitan dalam mencapai promosi atau mendapatkan posisi jabatan yang lebih tinggi.
Penting untuk diingat bahwa ini adalah contoh ketidaksetaraan yang sering terjadi di berbagai perusahaan. Kadang-kadang, perempuan yang sangat kompeten dan sukses dianggap "mengintimidasi" oleh rekan-rekan laki-laki atau atasan mereka, yang bisa membatasi kemajuan karier mereka. Ini mencerminkan stereotip gender yang merugikan perempuan dan membuat mereka kesulitan dalam mencapai kesuksesan yang seharusnya mereka raih.
Banyak organisasi dan aktivis gender berjuang untuk mengatasi masalah ini dengan mendorong perubahan budaya di tempat kerja dan memastikan bahwa perempuan memiliki peluang yang sama untuk meraih kesuksesan dan promosi karier. Hal ini juga mencerminkan pentingnya kesetaraan gender di tempat kerja.
Kisah Ji-yeong mengungkapkan ketidakadilan yang harus dihadapinya hanya karena dia seorang perempuan. Dia dipaksa untuk keluar dari pekerjaannya di perusahaan sebelumnya karena telah mencapai titik terendah dalam menanggung perlakuan buruk dari atasan. Meskipun dia telah menjadi salah satu karyawan perempuan yang paling teladan, Ji-yeong tidak pernah diberi promosi yang seharusnya dia dapatkan.
Bab 2011-2015 Kehidupan Kim Ji-Yeong Setelah Menikah
Ketika Kim Ji-Yeong menjadi ibu rumah tangga setelah melahirkan anak pertamanya ia memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan yang disenanginya. Ia terisolasi dari kehidupan sosial kemudian merasa terjebak dalam peran tradisional yang diharapkan oleh masyarakat. Ini adalah tahapan di mana tekanan sosial untuk menjadi ibu yang sempurna sangat kuat. Salah satu tahap yang penting adalah ketika Kim Ji-Yeong mulai mengalami masalah kesehatan mental yang serius. Ini adalah titik balik dalam cerita, yang mengilustrasikan pentingnya perawatan kesehatan mental dan dampaknya pada perempuan.
Bab 2016
Bab ini merupakan bab penutup yang meninggalkan kesan yang meresahkan. Di mana penulis mencukupkan kisah Kim Ji-Yeong dalam novelnya dengan open ending, pembaca dibuat bertanya-tanya apakah Kim Ji-Yeong akhirnya pulih dari depresi atau tidak.
Kelebihan Novel Kim Ji-Yeong: Lahir 1982
- Isu Ketidakadilan Gender Berdasarkan Fakta. Buku ini tidak hanya mengandalkan fiksi semata, tetapi juga mendukung cerita dengan data dan fakta yang menggambarkan ketidaksetaraan gender di Korea Selatan. Ini menjadikan buku ini lebih kuat sebagai alat untuk pendidikan dan kesadaran.
- Penokohan Yang Apik. Kim Jiyoung adalah karakter yang kompleks dan terbentuk dengan baik. Pembaca dapat berempati dengannya dan merasakan perjuangannya sepanjang buku. Ini membuat pembaca terhubung secara emosional dengan cerita.
- Memberi Dampak Penyadaran Pentingnya Penerapan Kesetaraan Gender Sejak Dini. Meskipun berfokus pada Korea Selatan, pesan-pesan buku ini universal dan dapat diterapkan di berbagai budaya dan masyarakat di seluruh dunia. Buku ini telah mencapai pembaca di luar Korea dan menjadi bagian dari perdebatan global tentang isu-isu gender.
- Gaya Bahasa Yang Mudah Dipahami. Gaya Bahasa yang digunakan penulis dan penerjemah membuat buku ini menarik dan mudah dibaca, sehingga dapat dijangkau oleh berbagai kelompok pembaca, termasuk mereka yang mungkin tidak aktif dalam membaca karya sastra.
Kekurangan Novel Kim Ji-Yeong: Lahir 1982
- Naratif yang Tidak Objektif. Buku ini mengikuti narasi yang sangat subjektif melalui pengalaman Kim Ji-Yeong. Hal ini dapat menyebabkan pembaca merasa bahwa pandangan yang disajikan tidak sepenuhnya objektif dan mungkin lebih berat sebelah dalam menggambarkan konflik antara laki-laki dan perempuan.
- Fokus Terbatas pada Konteks Korea Selatan. Buku ini sangat terfokus pada pengalaman perempuan di Korea Selatan. Meskipun pesan-pesannya dapat diterapkan secara lebih luas, beberapa pembaca mungkin merasa bahwa itu terlalu khusus dan tidak mencakup keragaman pengalaman perempuan di seluruh dunia.
- Berpotensi menumbuhkan stereotip baru. Beberapa karakter dalam buku ini mungkin terlihat sebagai stereotip, seperti ibu yang berfokus pada urusan rumah tangga dan suami yang kurang peduli. Meskipun ini mungkin mencerminkan kenyataan bagi beberapa keluarga, beberapa pembaca mungkin merasa bahwa karakter-karakter ini terlalu sederhana.

Komentar
Posting Komentar