Arisan Materi Vol.2
Judul Buku : Bilang Begini, Maksudnya Begitu
Penulis : Sapardi Djoko Damono
Jumlah Halaman : 137 hlm
Tanggal Terbit : Cetakan kedua, Maret 2016
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Peresensi : M. Ilham Nasrullah
Konon puisi adalah mahkota bahasa. Puisi adalah hasil yang dicapai jika seseorang mampu bermain-main dengan bahasanya. Apa yang ditulis penyair tidak serta-merta bisa diartikan secara harfiah. Gerimis bukan berarti hujan, dan bunga belum tentu berarti kembang. Kerap penyair bilang begini, tapi maksudnya begitu. Lalu bagaimana caranya bisa menikmati puisi dan menangkap pesan atau makna yang ingin disampaikan oleh penyair?
Buku ini bukan buku teori sastra tetapi semacam ajakan dari Sapardi Djoko Damono untuk mengapresiasi puisi dengan pengenalan akan sejumlah alat kebahasaan yang dimanfaatkan penyair untuk menyampaikan sesuatu yang bisa saja berupa cerita, gagasan, sikap, suasana, dan sebagainya. Sejumlah alat atau muslihat atau gaya yang biasa digunakan penyair dalam puisinya dijelaskan dengan menampilkan sejumlah contoh. Pemahaman atas alat-alat itu diharapkan bisa membantu tumbuhnya apresiasi puisi yang lebih baik.
Resensi
Buku ini merupakan buku tentang tuntutan dari seorang Sapardi tentang bagaimana mengapresiasi sebuah puisi.
Bagian Pertama : Wujud Visual Berita dan Cerita
Salah satu perspektif atau sudut pandang dalam menarik arti atau mengartikan sesuatu. Contoh di buku ini tentang puisi adalah fiksi dan berita adalah fakta. Sebuah berita merupakan kumpulan dari sebuah fakta. Namun ada sudut pandang lain yang menarik sebagai bahan diskusi. Bukankah berita yang merupakan sebuah fakta
dituliskan oleh seseorang manusia biasa? Secara sengaja atau pun tidak telah
tercampur dengan sudut pandang si penulis?
Bila berita yang sama ditulis orang berbeda maka hasil tulisan bisa jadi memiliki sudut pandang atau kesimpulan berbeda. Kalau begitu bukankah berarti fakta tadi telah tercampur dengan opini-opini yang dapat membuat berita terdapat sisi fiksi seperti puisi?
Bagian Kedua: Puisi Sebagai Bunyi
Sastra merupakan tradisi lisan.
Tradisi tulis cetak yang kembali dilisankan lagi menjadi sebuah bunyi. Walaupun puisi dan jenis sastra lainnya ditulis dengan memperhatikan tanda baca titik, koma, seru, tanda tanya, namun pada hakikatnya saat kita menuliskannya kita sedang menyuarakan huruf-huruf tersebut di kepala kita.
Kita melisankannya bahkan sebelum mulai menulis. Dalam pelisanan atau pembacaan sebuah puisi tidak bisa sembarangan. Butuh latihan sebab perlu memperhatikan segi bunyi sebagai daya pikat dari puisi.
Bagian Ketiga: Jenis Puisi
Yang menarik dari bab ini adalah pembahasan tentang karya tulis apa pun itu dapat bertahan lama dan "kekal" jika memiliki "bahan pengawet" di dalam tulisannya. Tidak ada rumus membuatnya, tidak ada resep racikannya, tidak ada studi kasusnya, melainkan muncul begitu saja dalam tulisan tersebut dan dapat disadari oleh pembaca.
Lewat puisi penyair bisa masuk ke dalam "pikiran" orang, mereka layaknya pengisah tentang apa yang ada di dalam benak sang tokoh. Penyair dan pengisah tidaklah sama, pengisah adalah voice actor yang menarasikan sebuah cerita dan penyair adalah author. Namun, bukankah yang dinarasikan pengisah merupakan isi pikiran sang penyair? Sebuah ironi. Di sini juga membahas inti dari judul buku ini tentang masalah penafsiran.
Penafsiran merupakan hak milik masing-masing pembaca puisi. Maka dari itu pemaknaan menurut pribadi masing-masing tidak salah sebab menyangkut pengetahuan
dan sudut pandang masing-masing pembaca. Lewat puisilah penyair berkomunikasi dengan pembaca, tapi karena disusun dengan sedemikian rupa bisa saja maksudnya tak tersampaikan.
Bagian Keempat : Bilangnya Begini Maksudnya Begitu
Melalui sajak Rendra di bab ini, menyiratkan bagaimana pentingnya sebuah latar yang cocok dengan situasi yang mendukung. Latar yang cocok memberikan suasana hidup bagi pembaca puisi.
Cara menyatakan adalah hal penting dari perihal yang ingin dinyatakan. Cara menyatakan yang kurang enak bisa menjadi faktor puisi sulit dinikmati pembaca atau yang disebut "gambar" dalam puisi. Gambar
yang tersusun dengan cermat dan jelas semakin memudahkan pembaca menafsirkan maksud penyair.
Kita sebagai pembaca harus punya rasa ingin tahu yang selalu ada dalam diri kita kalau menghadapi benda seni apa saja. Kita harus selalu menggunakan kacamata curiga. Jangan-jangan apa yang tersirat dari puisi itu tidak seperti yang kita baca. Ini adalah hal yang wajar atau terbilang harus agar
selalu tergoda untuk mengusut makna yang selalu terasa belum terungkap lengkap.
Baca bagian selanjutnya, lebih lengkap di buku ya. Bukunya mudah didapatkan. Ada di aplikasi Ipusnas. Gratis.

Komentar
Posting Komentar